Wahai Calon Suamiku, Jemput Aku Menjadi Bidadarimu

Foto: Nurul Mutmainna Z.


Untukmu calon imam, kau yang termasuk dalam perjanjian ini, dirimu masih rahasia penciptamu, rahasia yang telah ditentukan untukku, yang perlu kusingkap dengan segunung taubat dan sepenuh sungguhan sujudku, hanya jambatan istikharah jua yang bisa diaksesai rahasiaku ini.
Ketahuilah wahai mujahidku, mengerti namamu tidak menjadi idamanku, diminta untuk melihat wajahmu, menggeletar diri ini difasilitasi oleh azab Allah
Justru diri ini sangat bersyukur karena masih tidak ditakdirkan sembarang pertemuan antara kita, ku bimbang danai terjadi pertemuan itu sebelum lafaz akad darimu, sungguh kita harus melalui pemeriksaan Allah. Ya Tuhan kami lindungi kami.
Biarlah lama, yang ku tunggu bukan dirimu, tetapi yang ku tunggu adalah lafaz akad yang akan membimbing dirimu ke Jannah Allah.
Apalah artinya perasaan terima kasih yang bersemi untukmu calon suamiku danai maharnya bukan kemampuanmu untuk mendidikku menjadi mujahidah yang meminta Dia lebih dari segalanya.
Tiada yang lebih bahagia bagiku calon suamiku, lebih baik didikanmu yang akan membuat diri ini dihargai perjuangan menegakkan Dien ini.
Berikan aku kekuatanmu dalam mendidik iman agar syahid ku damba, berikan aku semua terima kasih agar sujudku bisa tegar pada kita dalam memohon dikasihakan pada kita mujahid-mujahid yang akan menyambung perjuangan abah mereka.
Memberikan sebagian besar hati yang kau sediakan untuk diriku sendiri, agar sebagian besar hatimu itu akan menjadi inspirasi yang disetujui untuk dihantar satu per satu mujahid kita ke medan jihad.
Mungkin Anda heran suamiku, Sebagian diri ini hanya sebagian besar hatimu dan bukan sepenuhnya?
Wahai calon suamiku, hatimu itu milik Rabbul Izzati, dan kumohon sebagian karena semangatku.
Wahai calon suamiku, dari awal sudah kudidik hati ini, itu dirimu bukan milikku tapi milik Allah, dan diriku hanya medan yang dibuat-Nya untuk menyambungkan generasi jihad dari rahim ini.
Wahai calon suamiku, seadanya dirimu sekarang dalam mujahadah, mentarbiyyah jiwa agar aku bisa menjadi sayapmu mengenggam syahid.
Tolonglah bimbang diri ini andai ku gagal mendidik hati, karena kuimpikan adalah pejuang untuk menyambung jihad yang terbentang dengan membawa para mujahid.
Wahai calon suamiku, walau mana jua dirimu dan siapa jua dirimu, yang pasti bersama kita mendidik hati menerima syahid demi ridha-Nya.
Sebagai hamba yang menikmati hadiah yang tidak terkira dari Rafi'ul A'la, bersamalah kita bersyukur, bersyukur dengan menerima Dia lebih dari semua isi dunia dan dunia ini.
Karena hilang makna pada sebuah kehidupan dan cinta dari Allah tidak kita balas, dan cinta sementara bisa melukakan hati, maka sepatutnya hati-hati kita robek telah gagal membalas segunung cinta dari Dia yang Maha Esa.
Semoga semuanya terjawab dalam sujud yang kita labuhkan demi ridha-Nya, biarlah seribu malam berlalu tetapi semuanya dilanjutkan dengan alunan sendu dalam sujud kita di atas lembaran tahajjud, kita semakin berharapaimu.

Penulis: Khadijah E 
Editor: Wachid M.b

Komentar

  1. Aamiin..semoga yg di harapkan itu...segera terwujud atas izin-nya,selalu sabar dlm menunggu.y...🙏🤲

    BalasHapus

Posting Komentar